| Kadin Jaya ajak Pemprov pacu daya saing |
|
|
|
| Oleh Administrator |
| Senin, 15 Februari 2010 16:36 |
|
JAKARTA: Kadin Jaya mengajak pemprov DKI dan dunia usaha di Jakarta memacu daya siang dan mutu SDM guna menghadapi pemberlakuan Asean Free Trade Area (AFTA) dan Asean China Free Trade Area (ACFTA).
Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) DKI Eddi Kuntadi mengingatkan saat ini dunia usaha dihadapkan pada krisis perekonomian global yang membuat pertumbuhan ekonomidomestik melambat. Hal ini dipicu merosotnya perekonomian negara-negara maju yang mengakibatkan perdagangan dunia yang lesu.
“Terutama adanya penurunan ekspor Indonesia dan timbulnya sentimen negatif terhadap pasar keuangan domestik yang akhirnya memengaruhi perekonomian secara keseluruhan.”
Menurut dia saat ini dunia usaha belum sepenuhnya pulih dari pengaruh krisis global, dan keberadaan ACFTA dikhawatirkan memengaruhi keberadaan industri dalam negeri terutama terkait dengan daya saing produk asal China. “Karenanya Kadin menyambut baik upaya Pemerintah Indonesia yang mengirimkan notifikasi negosiasi ulang (renegosiasi) ke China dan negara Asean lainnya,” ujar Eddi dalam rapat pimpinan provinsi (RA-pimprov) II/2010 bertema Dampak dan Peluang pelaksanaan ACAFTA bagi dunia usaha di Indonesia” yang digelas kamis. Selain itu, perlu dilakukan upaya lain dalam meningkatkan daya saing produk barang atau jasa terutama dari mutu SDM. Melalui Rapimprov diharapkan dapat membuat satu kajian menyeluruh mengenai kesiapan dunia usaha Jakarta dalam menanggapi pasar bebas Asean, baik dalam aspek ekonomi, kelembagaan, dan kebijakan. Gubernur DKI Fauzi Bowo mengakui dengan diberlakukannya AFTA dan ACFTA, membuat produk-produk luar, tidak hanya membanjiri ritel besar tetapi juga sampai ke warung-warung kecil di pemuiman. “Produk lokal kesempatan pemasarannya dipersempit oleh limpahan produk luar yang murah harganya.” Kondisi ini menurut Pemprov DKI lebih kreatif dan inovatif serta mempererat kemitraanya dengan Kadin sebagai pelaku ekonomi. “Kalau kita tidak punya strategi dan inovasi khusus untuk melindungi, tentu akan merugikan produk lokal, ujar Fauzi. Bisnis Indonesia |