| Sektor UKM didorong manfaatkan resi gudang |
|
|
|
| Oleh Administrator |
| Selasa, 13 April 2010 10:44 |
|
JAKARTA: Kemeterian Koperasi dan UKM mengoptimalkan sosialisasi program resi gudang sebagai salah satu sarana meningkatkan aktivitas pelaku usaha kecil menengah di sektor pertanian melalui skema permodalan.
Asisten Deputi Urusan Restrukturisasi Usaha Kementerian Koperasi dan UKM Prijambodo mengemukakan program resi gudang yang melibatkan beberapa lembaga, sangat ideal dikembangkan, karena merupakan alternatif bagi pembiayaan KM.
“Saat ini sudah ada program rintisan yang kami selenggarakan di koperasi pertanian di Banyuwangi, Jawa Timur, dan di sidrap, Sulawesi Selatan. Rintisan ini kami lakukan bersama dengan PT Pertani dan PT Kliring Berjangka Indonesia (KBI),”ujarnya kemarin.
Untuk memenuhi permodalan atau pendanaannya disertakan Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB-KUMKM) yang berada di bawah operasional Kementerian Koperasi dan UKM. Lembaga ini pada 2010 mengalokasikan anggaran sedikitnya Rp1,2 triliun. Pelaksanaan program ini, kata Prijambodo, akan memutus mata rantai kerja pengijon di sektor pertanian. Sebab, komoditas diberli sebelum masa panen dengan harga di bawah pasar. Akbitanya, petani selalu merugi. Dengan program resi gudang, petani bisa menahan tawaran pengijon, karena pengelola program tersebut bisa mengeluarkan pinjaman senilai 70% dari total komoditas yang disimpan dalam resi gudang setelah masa panen. Program ini sejak 2 tahun lalu telah dirintis di Jawa Barat, namun belum optimal, sehingga pada tahun ini dikembangkan kembali. Pada awal April program sosialisasi resi gudang sudah dilaksanakan di Semarang Jawa Tengah. Menurut Prijambodo, hasilnya lumayan bagus karena sejumlah enam koperasi unit desa (KUD) mengikuti sosialisasi serta segera merencanakan akses dikembangkan ke provinsi lainya di seluruh Indonesia. “Kami menilai pentingnya sosialisasi, karena sampai saat ini masih banyak pemahaman yang salah terhadap program resi gudang. Misalnya, UKM berasumsi bahwa resi gudang adalah lembaga penyedia permodalan awal untuk usaha,” Yang benar adalah, koperasi atau kelompok manajemen yang ditunjuk menjadi pengelola resi gudang lebih dulu menerima komoditas petani untuk disimpan. Setelah harga ditetapkan sesuai pasar, lalu UKM menerima sertifikat dari pengelola resi gudang sesuai dengan nominal maksimum 70%. “Sertifikat inilah yang dibawa ke lembaga keuangan nonbank seperti LPDB, serta ditukarkan. Dalam transaksi ini, UKM akan menerima subsidi bunga hingga 5%. Ketika komoditas mereka yang disimpan dijual saat kondisi harga normal, mereka wajib membayar pinjaman sesuai perhitungan yang telah ditetapkan Kementerian Keuangan, “tandas Prijambodo. Sampai saat ini masih delapan komoditas yang bisa disimpan dalam program resi gudang, yakni gabah padi, beras, jagung, kako, rumput laut, kopi, lada, dan karet. Bisnis Indonesia |