| Rp 80 Miliar untuk Kredit Murah UMKM |
|
|
|
| Oleh Administrator |
| Kamis, 01 Juli 2010 16:28 |
|
JAKARTA, KOMPAS – Lembaga Pengelola Dana Bergulir Koperasi, Usaha Mikro, Kecil dan Menengah mengucurkan pinjaman melalui PT Permodalan Nasional Madani sebesar Rp 80 miliar.
Sasaran kredit dengan bunga relatif rendah ini adalah usaha mikro, kecil dan Menengah mengucurkan pinjaman melalui PT Permodalan Nasional Madani sebesar Rp 80 miliar. Sasaran kredit dengan bunga relative rendah ini adalah usaha mikro, kecil dan menengah yang menjadi binaan Permodalan Nasional Madani atau PNM.
Program pembiayaan untuk usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) ini ditanda-tangani dalam kerja sama antara Direktur Utama LPDB-KUMKM Fadjar Sofyar dan Dirut PNM Parman Nataatmadja di Kantor LPDB-KUMKM, Jakarta, Selasa (29/6). Dana Rp80 miliar tersebut, menurut Fadjar akan disalurkan secara bertahap sesuai kebutuhan. Target pengucuran pertama mencapai Rp20 miliar. Tahap selanjutnya masing-masing sebesar Rp30 miliar per bulan. “Ini merupakan bentuk keprihatinan bersama kita karena selama ini UMKM harus mendapatkan bunga kredit di atas 24 persen. Akibatnya, UMKM sulit berkembang,” ujarnya. Dijelaskan, sesuai perjanjian, bunga yang dikucurkan dari LPDB ke PNM sebesar 6 persen. Bunga ini bersifat menurun. “Sehingga, kalau dimasukkan dalam kategori bunga efektif, bunganya hanya mencapai 3 persen,” tutur Fadjar. Selanjutnya Fadjar menjelaskan, bunga maksimal yang berlaku di tingkat UMKM selaku pengguna dana mencapai 17 persen. “Ini pun sekali lagi bersifat menurun. Ini jauh lebih murah dibandingkan pembiayaan lainnya,” kata dia. Dengan pola kerja sama semacam, tahun ini LPDB diperkirakan dapat mengucurkan permodalan ke berbagai lembaga keuangan nonbank sebesar Rp1,185 triliun. Kredit Rp1 juta Menurut Parman, pengucuran kredit yang dilakukan oleh PNM mencapai Rp 150 miliar per bulan. Dana tersebut tidak hanya untuk pembiayaan UMKM, tetapi juga untuk membangun kapasitas kemampuan UMKM supaya UMKM dapat meningkatkan daya saing. “Apalagi ke depan kita harus meningkatkan daya saing dalam rangka implementasi Perjanjian Perdagangan Bebas ASEAN-China,” kata Parman. Parman menegaskan, pengucuran kredit tersebut untuk industry kecil dan menengah, perdagangan dan peternakan. Dia menjelaskan, meskipun diizinkan mengucurkan kredit hingga Rp 50 juta per UMKM, PNM akan lebih focus pada nasabah yang membutuhkan kredit Rp1 juta-Rp5 juta. “Pedagang bakso keliling itu perputaran uangnya sebetulnya sangat besar. Tinggal bagaimana kita membangun pengelolaan keuangan,” kata Parman. Parman mengharapkan, kerja sama untuk mendorong pengembangan UMKM ini dapat terus dilaksanakan. Hanya dengan cara ini bisa dibuka lapangan kerja seluas-luasnya. Diakui, dari kredit yang telah disetujui oelh PNM, yaitu sekitar Rp 1 triliun per tahun, yang bermasalah sekitar 1,2 persen. Saat ini masalah produktif yang dibina oleh PNM mencapai 30.000 orang (OSA) Kompas |