UKM Kebal dengan Serbuan Produk China


Senin, 11 Januari 2010 14:38
Yang dibutuhkan usaha kecil adalah bantuan permodalan dan ketersediaan bahan baku
PEMERINTAH Optimis pengusaha kelas usaha kecil dan menengah (UKM) memiliki bekal kekuatan yang cukup untuk bersaing dengan produk dari China seiring dengan pemberlakuan ASEAN-China Free Trade Agreement (ACFTA) yang efektif berlaku sejak tahun ini.

Kesimpulan itu dilontarkan oleh Menteri Koperasi dan UKM Syariefuddin Hasan, seusai melakukan inspeksi mendadak (sidak) di sentra penjualan kerajinan sepatu di Cibaduyut, Bandung Jawa Barat, akhir pekan lalu.
Syarief menyatakan produk tas, sepatu, jaket, dan dompet berbahan kulit dan semikulit Indonesia memiliki keunggulan dari segi model, bahan dan kualitas produk jika dibandingkan dengan produk impor dari China.
“Dari gambaran di Cibaduyut ini terbukti, pengusaha UKM tidak terlalu takut dengan masuknya produk China. Buktinya, produk buatan Indonesia masih lebih laku, “ujar Syarief.

Namun diakuinya, sulit bagi UKM untuk melakukan penetrasi pasar ke luar  seperti China pada saat ini. Pasalnya, unutk memenuhi kebutuhan lokal saja. UKM sudah kewalahan. Sehingga untuk sementara waktu, strategi yang diambil pemerintah bagi UKM adalah bertahan hidup dan fokus pada pasar dalam negeri.

Sementara itu, pedagang bernama Zoelhendry mengaku penjualan antara barang lokal dan China masih seimbang. Ia mencotohkan, tas jinjing perempuan buatan lokal seharga Rp200 ribu dan China seharga Rp80 ribu punya rasio penjualan yang sama. “Kalau pembeli mencari barang berkualitas, mereka membeli barang buatan lokal. Kalau mau cari yang murah, mereka ambil produk buatan China.”

Imam Mansur, salah seorang perajin sepatu mengatakan yang dikhawatirkan perajin bukan ancaman derasnya produk China, melainkan soal permodalan dan bahan baku.

Secara terpisah Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jawa Barat Ade Sudrajat mengatakan industri Indonesia memiliki peluang positif dengan diberlakukannya ACFTA. Namun, pemerintah terlambat menyiapkan industri Indonesia agar mampu bersaing dengan kompetitornya.

“Pemerintah harus kerja keras untuk mengawal ACFTA. Bila tidak, pengusaha akan kolaps karena tidak mampu bertahan “, ujarnya.
Adapun Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) Thomas Darmawan menyatakan ACFTA akan membuat pemerintah tergugah untuk memperbaiki iklim usaha. Dengan demikian, pada akhirnya ACFTA akan lebih membawa dampak positif ketimbang negatifnya.

Rawan ditunggangi

Deputi Menko Perekonomian Bidang Industri dan Perdagangan, Edy Putra Irawan mengatakan perjanjian perdagangan bebas rawan ditunggangi penumpang gelap sehingga perlu pengaman dalam pelaksanaanya.

Ia mencotohkan, untuk komoditas kopi saat ini Indonesia baru melakukan perjanjian dengan korea. Namun di lapangan banyak sekali di pasar Internasional yang menggunakan surat keterangan asal (SKA) Indonesia.

“Kita banyak sekali mengalami hal-hal seperti ini, juga ekspor komoditas udang ke Amerika yang menggunakan SKA kita, padahal bukan dari kita,”ujarnya.

Edy menyebutkan untuk mengawal efektivitas FTA dan melakukan pengaman, pemerintah membentuk  Tim Penanggulangan Masalah Industri dan Perdagangan yang diketuai Menko Perekonomian dan beranggotakan juga wakil dari pengusaha.

Adapun dari DPR, Komisi VI juga akan memprakarsai pembentukan tim untuk mengawasi dampak dari penerapan FTA ini. Anggota Komisi VI DPR dari Partai Gerinda Eddy Wibowo meyatakan pemerintah tetap harus memberi perhatian tetap harus memberi perhatian bahwa ada efek negatif dari penerapan ACFTA

Cornelius Eko
Media Indonesia

Lembaga Pengelola Dana Bergulir - KUMKM

Jl. Letjend. MT. Haryono Kav. 52-53
Jakarta 12770 - Kotak Pos 4370
Telp. 021-7901440, 7990756
Fax. 021-7989746

Copyrights © 2014. LPDB. All Rights Reserved